Rabu, 11 Juli 2012

Adab Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan



 
  Nah,Kan bentar lagi puasa nih, jadi saya selama dibulan ini maupun bulan suci ramadhan nanti saya dominan postingannya akan melenceng ke agama-agama dulu ya, tapi tenang aja,tips&trik yang lainnya masih saya usahakan untuk menulisnya kok.Hari ini kita bahas tentang Adab Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan.




Yang Pertama, Akan Diampuni Dosa-dosa Yang Telah Lalu


Qiyamul Lail atau shalat malam juga sering disebut shalat tarawih merupakan ibadah yang agung dan mulia. Ia menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah bagi orang-orang shaleh.
Bagaimana adab qiyamul lail (QL), atau shalat tahajjud yang dalam bulan Ramadhan disebut shalat tarawih ini?  berikut uraiannya.

Niat Ikhlas
Qiyamul Lail ibadah yang paling disenangi Allah, maka hendaklah seorang Muslim mengikhlaskan niatnya, yakni hanya untuk mencari keridhaan Allah. Jadikan kesempatan Qiyamul Lail itu untuk mendekatkan diri kepada Allah, bermunajat di altar rahmat-Nya dan memohon kemuliaan dari-Nya.

Tidak Mengkhususkan Malam Jum’at
Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Janganlah kamu mengkhususkan malam Jum’at dari malam-malam yang lain, untuk melakukan ibadah.” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

Menggosok Gigi
Bersihkanlah gigi sebelum melaksanakan Qiyamul Lail, agar bau mulut menjadi harum. Nabi Muhammad SAW senantiasa membersihkan giginya dengan siwak, saat melaksanakan shalat malam. (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Hudzaifah)

Mengajak Keluarga dan Berjamaah
Membangunkan keluarga untuk melaksanakan ibadah Qiyamul Lail merupakan perbuatan yang dianjurkan agama.
Nabi SAW bersabda, ”Allah mengasihi seorang laki-laki yang (bangun) melaksanakan shalat malam, kemudian membangunkan istrinya dan (istrinya) juga melaksanakan shalat…” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i)

Memulai dengan Dua Rakaat yang Ringan
Nabi Muhammad SAW jika melaksanakan shalat malam, senantiasa membukanya dengan dua rakaat yang ringan. (Riwayat Muslim dari Aisyah)

Lakukan Dua Rakaat-Dua Rakaat
Dirikan shalat malam dua rakaat-dua rakaat, kemudian diakhiri dengan witir. Nabi bersabda, “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat, jika salah seorang kamu khawatir masuknya waktu subuh, shalatlah satu rakaat sebagai witir dari shalat malam yang telah dilakukannya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Memanjangkan Shalat
Bagi mereka yang mampu melaksanakan shalat malam dalam waktu yang panjang, hendaklah melakukannya. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat (malam) yang paling baik adalah yang panjang qunutnya.” (Riwayat Muslim dari Jabir). Imam Nawawi mengatakan, yang dimaksud dengan qunut dalam hadits ini adalah berdiri.

Tidur, Jika Sangat Mengantuk
Rasulullah SAW bersabda, ”Siapapun di antara kamu yang melaksanakan shalat malam, kemudian tidak jelas bagian bacaan al-Qur’an (karena mengantuk) hingga tidak menyadari apa yang dia baca, maka hendaklah dia membaringkan diri(tidur).” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

Mengakhiri dengan Witir
Mengakhiri shalat malam dengan witir, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Jadikanlah witir sebagai penutup shalat malammu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Semalam Hanya Sekali Witir
Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi dan menghasankannya, dari Thalaq bin Ali).

Mengqadha (Mengganti) Qiyamul Lail
Bila tidak bisa melaksanakannya karena tertidur, sakit atau lainnya, maka diperbolehkan menggantinya di siang hari. Yakni pada waktu dhuha (bukan mengganti dengan shalat dhuha) sebanyak 12 rakaat.
Dalam hadits diterangkan, ”Jika Nabi tertidur atau sakit hingga tidak melaksanakan shalat malam, maka dia melaksanakannya pada siang hari sebanyak dua belas rakaat.” (Riwayat Muslim dari Aisyah)

Istiqmah
Qiyamul Lail merupakan ibadah yang agung dan mulia. Karenanya bagi mereka yang telah terbiasa melaksanakanya, beristiqamahlah. Dengan redaksi menyindir, Nabi bersabda kepada Abdullah bin Umar,”“Wahai Abdullah, jangan seperti si Fulan, dulu dia terbiasa melakukan shalat malam, tapi kemudian dia tinggalkan,” (Riwayat Bukharidan Muslim).*/Sahidsumber: Ensiklopedia Etika Islam oleh Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, Maghfirah Pustaka


Artikel Terkait ^_^

0 komentar:

Poskan Komentar